Sunyi dalam Keramaian
Ada saatnya di mana orang-orang bertepuk tangan untuk kita, tetapi yang kita temukan adalah kilas balik perjalanan yang sangat sunyi dalam keramaian. Orang-orang tidak paham bagaimana kita memulai, juga tidak tahu sudah seberapa kali kita ingin berhenti saja. Baca Juga: Suara Anak Petani
Langkah yang diseret terlalu jauh dari pulau ayah dan ibu, bukan perkara mudah. Ketakutan demi ketakutan kadang mengusik tanpa Jeda. Menyadari kehilangan tumpuan pulang saat tanjung dan selat jauh membentang seperti sebuah kegagalan besar kala itu, apalagi bertepatan dengan hari-hari menuju penghabisan.
Tetapi mungkin adakalahnya kita mesti berbangga pada diri kita, bahwa ia tak lemah seperti yang kita pikirkan. Ayah, saya tersenyum untuk ini, kau berhasil mendidik lelakimu tumbuh menjadi kuat. Ibu, asap tungkumu telah menjadi parfum paling bernilai. Baca Juga: Aku dan Pesan Ayah
Terima kasih Jogja dan lampu-lampu pinggir jalan yang mencatat kaki lelah saya. Juga kepala-kepala yang ikut merekam keberadaan saya. Saya bukan siapa-siapa tanpa kalian, dan perjalanan ini mungkin tak pernah sampai. Baca Juga: Wisuda Tanpa Orang Tua
Saya sadar betul ada jalan baru yang harus saya mulai. Di luar sana orang-orang akan mempertanyakan gelar saya seimbang tidak dengan kepala saya. Saya tahu akan banyak pertanyaan-pertanyaan yang dituntut di luar sana untuk saya jawab. Saya sedang berjuang menjadi jawaban itu sendiri, jangan berhenti saling mendukung dan menasihati.



Komentar
Posting Komentar